Utang
Menggerutu pada ibu, dan bilang nggak mau lagi menagih hutang, begitu selalu yang aku ucapkan setelah menagih utang. Herannya aku selalu saja mau menagih utang ke tetangga bila disuruh lagi. Ibu sepertinya punya jadwal nyuruh aku menagih hutang, setiap Kamis. Pada hari itu memang kebanyakan tetanggaku pada gajian. Mereka menjadi buruh noto mi, pada orang-orang yang punya usaha pembuatan kerupuk.–more– Lingkunganku memang kebanyakan punya usaha pembuatan kerupuk, tahu, dan tempe. Ke utara sedikit adalah lingkungan nelayan. Ke dalam sedikit, yakni dekat dengan rumah nenek, adalah lingkungan bertani.
Tiba waktunya aku benar-benar jera. Aku diumpat habis-habisan sama salah satu orang yang aku tagih. Di depan orang banyak dia meracau nggak karuan. Sakit rasanya. Tapi, dari pengalaman itu kok aku jadi punya tekat, kelak mereka yang ngomel-ngomelin aku akan memandangku. Oh ini Widya yang dulu. Masa kecilku emang penuh impian. Aku ingin menjadi orang terkenal. Ingin masuk majalah juga TV. Pernah bulek Yanti bilang.
“TVnya ora cukup Wid.”
Aku menolak disuruh nagih hutang lagi. Akhirnya ibu yang menagih ke orang-orang. Eh, kok dapat uangnya kalau ibu yang menagih hutang. Akhirnya aku memilih menjaga warung. Tetapi ibu mengeluh, kalau yang jaga warung Widya kok sepi pembeli. Kata orang-orang, aku kalau jualin rempah-rempah suka kemahalan. Ah, ada-ada aja.
Sekarang kalau aku pulang kampung, aku sangat menikmati bila disuruh menjaga warung. Ternyata berjualan itu seperti main-main. Bertemu dengan orang-orang. Harus selalu tersenyum, tapi aku sering gagap. Sudah belasan tahun nggak jaga warung. Jadi sering bertanya pada ibu. Kalau ibu pergi malah pembeli aku suruh bawa barangnya, uangnya nanti aja, karena aku nggak tahu harganya. Untung mereka pada jujur, ketika aku balik ke Jakarta. Mereka yang pernah bawa barang dan belum sempat bayar pada ngomong sama ibu.
Bagaimana dengan Nawang?