BLOG NOVEL NAWANG PINDAH KE:

Posted in info on Oktober 25, 2009 by novelnawang

http://

novelnawang.co.cc

Bedah Novel Nawang

Posted in foto on Oktober 25, 2009 by novelnawang

bedah novel nawang

Kemarin, Sabtu (24 Oktober 2009), novelku “Nawang” didiskusikan dalam acara Library and Publisher Expo 2009 di ruang Anggrek, Istora Senayan, Jakarta.

Dari 150 Halaman…

Posted in tentang nawang on Juni 19, 2009 by novelnawang

NOVEL Nawang mulai aku tulis pada pertengahan 2007. Berangkat dari serpihan-serpihan kisah yang aku alami. Baik masa kanak-kanak, dan remaja. Jadi sangat kental dengan aroma tanah Batang, juga mendekati sosokku.
Novel Nawang mengangkat perempuan sebagai subyek. Perempuan berhak menentukan nasibnya, mendapatkan sekolah tinggi juga memiliki impian mewah. Baca lebih lanjut

Utang

Posted in tentang nawang on Juni 11, 2009 by novelnawang

Menggerutu pada ibu, dan bilang nggak mau lagi menagih hutang, begitu selalu yang aku ucapkan setelah menagih utang. Herannya aku selalu saja mau menagih utang ke tetangga bila disuruh lagi. Ibu sepertinya punya jadwal nyuruh aku menagih hutang, setiap Kamis. Pada hari itu memang kebanyakan tetanggaku pada gajian. Mereka menjadi buruh noto mi, pada orang-orang yang punya usaha pembuatan kerupuk.–more– Lingkunganku memang kebanyakan punya usaha pembuatan kerupuk, tahu, dan tempe. Ke utara sedikit adalah lingkungan nelayan. Ke dalam sedikit, yakni dekat dengan rumah nenek, adalah lingkungan bertani.
Tiba waktunya aku benar-benar jera. Aku diumpat habis-habisan sama salah satu orang yang aku tagih. Di depan orang banyak dia meracau nggak karuan. Sakit rasanya. Tapi, dari pengalaman itu kok aku jadi punya tekat, kelak mereka yang ngomel-ngomelin aku akan memandangku. Oh ini Widya yang dulu. Masa kecilku emang penuh impian. Aku ingin menjadi orang terkenal. Ingin masuk majalah juga TV. Pernah bulek Yanti bilang.
“TVnya ora cukup Wid.”
Aku menolak disuruh nagih hutang lagi. Akhirnya ibu yang menagih ke orang-orang. Eh, kok dapat uangnya kalau ibu yang menagih hutang. Akhirnya aku memilih menjaga warung. Tetapi ibu mengeluh, kalau yang jaga warung Widya kok sepi pembeli. Kata orang-orang, aku kalau jualin rempah-rempah suka kemahalan. Ah, ada-ada aja.
Sekarang kalau aku pulang kampung, aku sangat menikmati bila disuruh menjaga warung. Ternyata berjualan itu seperti main-main. Bertemu dengan orang-orang. Harus selalu tersenyum, tapi aku sering gagap. Sudah belasan tahun nggak jaga warung. Jadi sering bertanya pada ibu. Kalau ibu pergi malah pembeli aku suruh bawa barangnya, uangnya nanti aja, karena aku nggak tahu harganya. Untung mereka pada jujur, ketika aku balik ke Jakarta. Mereka yang pernah bawa barang dan belum sempat bayar pada ngomong sama ibu.
Bagaimana dengan Nawang?

Novel Nawang dan Kalung

Posted in tentang nawang on Juni 8, 2009 by novelnawang

SEPERTI namanya, kalung keramat seberat sembilanpuluh delapan gram adalah penyelamat bagi keluarga Nawang. Di dalam novel ini mak menggadaikan kalung ketika membutuhkan uang dalam jumlah besar.
Kalung keramat dalam novel Nawang, diilhami oleh kalung milik ibu. Sama seperti dalam Nawang, kalung ini menjadi penyelamat saat ibu membutuhkan banyak uang, sementara ibu kurang suka berhutang dengan orang lain. Akhirnya kalung itu ibu gadaikan ke kantor pegadaian dengan harga jauh di bawah normal. Makanya ibu akan selalu berusaha keras untuk menebus kalung itu. Tentu kalung milik ibu beratnya tak sefantastic dalam novel Nawang. Baca lebih lanjut

Dibalik Nawang

Posted in tentang nawang on Juni 4, 2009 by novelnawang

SEORANG teman bertanya, apakah Nawang ini bercerita tentang diri Dianing? Aku menjawab emang novel ini aku buat dengan semangat merindu-rindu dengan almarhum Bapak. Rasanya belum sempat aku membuat bapak bahagia. Bahkan bapak juga belum sempat membaca novel pertamaku, yang penggarapannya melibatkan Beliau.
Novel ini fiksi, tetapi berangkat dari serpihan-serpihan masa kecilku. Selain Nawang dalam novel ini aku hadirkan dua adik Nawang. Palupi dan Subur. Palupi aku ambil dari tokoh yang sering muncul dalam pelajaran bahasa daerah, bahasa Jawa, saat aku masih duduk di sekolah dasar. Aku siswi SDN 11 Kasepuhan Batang. Guru bahasa daerah saat itu bu Nartin. Anaknya Lilis, adalah rival beratku setiap ada lomba baca puisi. Baca lebih lanjut

Bapak di Mata Nawang

Posted in tentang nawang on Juni 1, 2009 by novelnawang

BAPAK bagi Nawang, juga bagi mak dan Palupi adalah laki-laki hebat. Bapak tak gentar menghadapi hidup. Kemiskinan yang didera keluarga bapak, tak menyulutkan bapak untuk melamar mak diwaktu muda dulu. Kekayaan orangtua mak waktu itu membuat orang terperangah. Karenanya hanya orang-orang kaya saja yang berani melamar mak.
Untuk orang kampung yang merasa kekayaannya dibawah orangtua mak, akan mundur teratur. Makanya mbah putri, ibu mak pataharang ketika mak menerima pemuda miskin, seperti bapak. Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.